Friday, June 1, 2012
TEST PILOT (1)
Thursday, May 3, 2012
Kenangan Peristiwa Pemboman Allan Pope di Ambon
Tuesday, April 21, 2009
CN-235 Phoenix, Australia program.
CN-235 Phoenix Project-Australia
Sekelumit kisah perjalanan misi promosi Flight Crew IPTN didalam usaha campaign/ promosi CN-235.
Pada tahun 1995 sekitar Pebruari IPTN diundang untuk melakukan demo flight CN-235 Military Version, sehubungan dengan rencana Pemerintah Australia untuk mereplace 2 squadron Caribou, yang dianggap telah aging ( Saat itu sudah sekitar 26 tahun on service).
Di IPTN ( PT DI ) pada saat itu tidak ada CN-235 Military Version yang available, seluruhnya telah dideliver ke UAE Airforce ( 6 pesawat?)
Maka diputuskan untuk me lease back dari UAE AF, satu CN-235 Military utk digunakan sebagai demonstrator sekaligus mengikuti Airshow Down under di AVALON 1995.
Pesawat UAE Berhasil di lease dengan syarat, dua personil ( Satu teknik dan satu Pilot ) UAE AF harus on board sebagai witness. Seingat saya untuk kedua personil UAE Mayor Jamal dan Mayor PNB Mudhafar, for some reason saat itu tdk bisa didapatkan security clearance bagi mereka berdua, utk memasuki military base di Australia
Ferry flight dari Abu Dhabi, kami lakukan, dengan pilot saya sendiri dan Erwin Danuwinata Alm, menempuh route Abu Dhabi-Bommbay- Calcuta- Bangkok-Bandung. Setelah melakukan beberapa penambahan di Bandung, seperti cargo rail dan beberapa peralataan lainnya, maka hanya dua hari setelah Lebaran kamipun mulai perjalanan.
Tujuan pertama adalah Darwin Airforce base dengan technical landing Denpasar. Saya masih ingat, untuk memberikan kesan bahwa CN-235 is simple to operate maka kami berangkat dengan minimum number onboard. 2 Pilot, 1 Flight test Engineer Prihatno Alm, 1 Mekanik, 1 QA inspector total 5 person on board. Ditambah 2 UAE-AF Officer yang sangat menikmati mission ini. Karena tidak mempunyai security clearance maka seusai Landing disetiap AF Base mereka dikawal oleh Provost keluar base utk Tamasya dan jumpa kami lagi just prior to Departure.
Logistic team IPTN berangkat terpisah dengan menggunakan airline, menuju Tulamarine Melbourne, stand by utk dispatch spare parts bilamana diperlukan di any point di Australia.
Presentation dan demo flight dilakukan di Darwin utk Salah satu Squadron Caribou yaitu “ Dingo Squadron”. Selama tiga hari beberapa Pilot berkesempatan untuk mencoba beberapa mission profile sesuai dengan mission yang biasa mereka lakukan. Termasuk diantaranya landing pada beberapa un-prepared runway, biasa mereka sebut BEEF TRACK, karena memang merupakan jalan berdebu biasa tdk didesign sebagai permanent Runway, hanya digunakan utk special mission.
Seluruh pilot DINGO yang menerbangkan merasa sangat puas dengan maneuverability maupun performance CN-235. Hal ini mungkin juga karena CN 235 merupakan “big jump” bagi mereka yang biasanya menerbangkan De Haviland Caribou yang Piston Engine, mendadak menerbangkan CN 235 yang Turbo Prop. Namun demikian dari hasil assessment, mereka cukup puas dengan STOL (Short Take Off Landing ) CN-235 yang ternyata bisa menyamai Caribou yang terkenal dengan STOL nya.
Meskipun ada beberapa saran/masukan perbaikan dan request dari mereka, seperti EYEBROW window, jendela diatas windshield yang akan memudahkan pilot dalam melakukan maneuver tajam seperti steep turn dan tactical mission lainnya. Kemudian juga hal seperti tangga yang embedded di pesawat utk membantu keperluan preflight. Semua coment dan input kami bawa pulang sebagai feed back bagi Engineering Dept di IPTN.
Pada umumnya mereka sangat puas dengan performance serta agility CN 235 bahkan boleh dikatakan jatuh cinta.
Setelah Darwin kami beralih ke Townsville yang juga merupakan salah satu Basenya Caribou.
Beberapa hari di Townsville kami lakukan kegiatan yang sama. Lebih banyak lagi dilakukan “Beeftrack” landing disekitar Townsville. Dan lebih banyak lagi pilot yang turut terbang “Mencicipi” CN 235 yang selama di Australia mendapat Operation Nickname “ PHOENIX”.
Bahkan PHOENIX sempat dipamerkan dalam acara OPEN HOUSE bagi penduduk sekitar Townsville.
Next destination adalah Amberley, salah satu Airforce Base di sekitar Brisbane, kegiatan yang sama dilakukan, tetapi disini lebih banyak discussion meliputi logistic support dari field level sampai Depot level, mereka benar2 detail dalam pernyiapan Logistic / Spare support sampai 25 years planningnya.
Di Amberley tdk terlalu banyak dilakukan flight, hanya beberapa flight itupun Joy flight bagi Project Staff Officer (Logistik dan teknik )
Dari Amberley kami menuju Richmond Airforce Base, di sekitar Sidney.
Di Richmond ini kami benar2 kerja keras karena Richmond base ini adalah pusatnya AMTDU ( Air Mobile Tactical Deployment Unit ) nya Australia, kalau di Indonesia mungkin setara dengan PERBEKUD
Selama hampir satu minggu RAAF melakukan assessment meliputi Vehicle loading Unloading, melalui Ramp Door. Agak menegangkan juga karena yg di loading adalah 6 wheels LAND ROVER yang cukup panjang sehingga kaca depan perlu direbahkan, untuk bisa loading ke dalam perut PHOENIX.
Selain itu dilakukan juga real Cargo Drop dari mulai yang terkecil A-22, sampai Heavy Cargo, bahkan dilakukan juga LAPES ( Low Altitude Parachute Extraction System ) dimana kami terbang hanya sekita2 satu meter AGL kemudian load direlease dengan Drog Chute dan kemudian Extraction Chute.
Juga dilakukan Static jump utk Army, kemudian beberapa sorties freefall utk Special Force yang dilakukan di NAVY Base, Nowra.
Puas dengan seluruh type of mission kamipun kemudian menuju Canbera, utk dilakukan assessment oleh para Project Office Staff dari seluruh aspect operational, support bahkan financialnya. Diskusi disisi cukup alot karena mereka juga sekaligus mengumpulkan bahan untuk menyusun TECH SPEC yang akan digunakan sebagai Biding Requirement/ Tender.
Saingan pada waktu itu adalah G-27 (ex 222?) ALENIA Italy yang pada saat itu sebenarnya pabriknya sdh tdk exist, menanti uluran tangan salah satu perusahaan Amerika untuk take over, selain kelas pesawatnyapun terlalu besar utk Caribou replacement.
Dari Canberra kami kemudian menuju AVALON, Melbourne untuk mengikuti Airshow selama sekitar satu Minggu.
Avalon mempunyai karakteristik Runway yang agak aneh, entah bagaimana sejarah designya dulu karena hampir selalu mengalami cross wind most of the time.
Sangat membanggakan saat itu karena pada Airshow tersebut setiap kami melakukan Dynamic display, selalu di announce bahwa PHOENIX adalah salah satu calon pengganti Caribou, menambah optimisme kami untuk bisa memenangkan tender 2 Squadron PHOENIX.
Namun demikian kami sempat pula ditegur oleh Airshow Flight Director, pada saat melakukan Dynamic Airshow, Erwin Alm saat itu terbang sangat bersemangat, pada saat atraksi wing over 120 derajat, kami level off recovery dibawah 500 feet. Sehingga tegurannya cukup keras dan komentarnya “ That was very attractive, however, you guys were not in a fighter aircraft so you don’t have to go over the top” kami hanya tersipu2 mendapat teguran tsb, walaupun public sebenarnya sangat impressed.
Kamipun sempat mengalami pecah ban pada hari pertama show, mungkin kami terlalu excited pada hari pembukaan tersebut. Untuk membuat lebih impressed kami lakukan short landing sependek2nya tapi dng cross wind yang cukup besar un even landing membuat ban pecah pada saat braking. Thanks God kami punya teman2 logistic yang memang stand by dng spare di Tulamarine sehingga kondisi segera diatasi.
DI Avalon kami sempat bertemu beberapa pengambil keputusan ditingkat kementerian yang menyatakan malu kepada Indonesia yang mampu membuat pesawat semacam PHOENIX tsb. Sementara Australia belum punya produk lain selain kelas NOMAD.
Bahkan beberapa opposition leader seperti Shadow minister of Labour? , yang konon terkenal keras, berkomentar sangat positif bahwa beliau pribadi akan mensupport program PHOENIX. Dan tentu saja Airforce Chief of Staff ( Marshal Fischer? ) termasuk yang sangat tertarik dng ability CN-235 PHOENIX .
Seusai Airshow, tugas kami belum selesai karena masih ada lagi assessment teknis yang akan dilakukan oleh Australian ARDU ( Air Research and Development Unit ) di Edinburgh- Adelaide.
Selama beberapa hari ARDU dengan test pilot Dutchy Holland dan Robin Wiiliams melakukan Assessment secara TEKNIS dalam aspect Performance, Handling quality, Mission system, termasuk NVG Demonstration disekitar lembah2 Adelaide. Memang pesawat UAE yang kami gunakan sdh NVG Compatible untuk Gen III. Sehingga beberapa kali kami melakukan night Mission under NVG Gen III sampai jam 1 pagi.
Setelah 4 hari di ARDU Facility, kami bertolak pulang ke Bandung melalui Alice Spring, Darwin dan Denpasar, mengakhiri PHOENIX mission kami selama lk 5 Minggu di Australia.
Pada tahun 1997 kami kembali mengikuti kembali Avalon airshow, tetapi itu semua ternyata terasa useless karena IPTN menyatakan pull out dari PHOENIX program. Memang saat itu kami merasa sangat kecewa. Mengingat di Bandung pun teman2 sdh sudah mulai melakukan development program untuk meng improved CN-235 menjadi versi-330 PHOENIX.
Tapi apa mau dikata jangankan IPTN, negarapun saat itu berada dalam survival mode, dimana memang banyak perlu dikorbankan untuk dapat survive. Tetapi kami masih boleh bangga, karena selanjutnya IPTN yang kemudian dalam era pemerintahan Gus Dur berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia.
Berhasil keluar dari kemelut dengan berhasil mendeliver CN-235 -220 ke Malaysia, Korea, bahkan Pakistan Airforce yang tdk sedikit jumlahnya. Demikianlah ternyata tidak pernah ada pengorbanan yang sia2. PHOENIX Project tdk pernah terwujud tetapi project2 lain berhasil diraih termasuk 4 pesawat utk Korean Coast Guard pada th 2008 yl
Demikianlah sekelumit perjalanan dalam usaha menduniakan CN-235
Tuesday, July 15, 2008
Melepaskan diri dari EU ban
European Union ban terhadap seluruh air operator Indonesia, masih saja menjadi topic utama perbincangan didalam komunitas aviation di Indonesia. Baik para pelaku business aviation, maupun dikalangan authority, regulator.
Banyak komentar dari para pejabat maupun beberapa politician yang mencoba menghubung hubungkan masalah ban EU dengan issue politik, ekonomi dan sebagainya. Diantaranya ada yang menghubungkan masalah ini dengan kepentingan business Aviation Industry Eropa, khususnya Airbus Industry sebab Indonesia dianggap lebih berpihak pada kubu Amerika, khususnya Boeing Company. Bahkan ada salah seorang pejabat yang mengatakan, bahwa ban ini sebenarnya hanya diprakarsai oleh Authority Jerman yang merasa jengkel kepada authority Indonesia, dalam kasus pemberian registrasi sipil kepada beberapa Helicopter ex Militer Jerman yang diimport ke Indonesia tanpa melalui formal Validation, termasuk tentunya export C of A dari negeri pengexport.
Banyak diantara para pejabat kita yang mencoba mencari solusi berupa approach secara politik/diplomatik.
Pada saat menjatuhkan sanksi ban terhadap Indonesia, EU ataupun EASA sebenarnya belum pernah melakukan kegiatan safety audit secara langsung terhadap kegiatan penerbangan di Indonesia, namun demikian EU lebih banyak telah menggunakan temuan2 dari audit yang dilakukan oleh ICAO maupun FAA beberapa waktu sebelumnya.
Jadi seyogyanya, untuk membebaskan Indonesia dari ban yang diberlakukan, tidak terlalu cepat kita mengalihkan persoalan yang melatar belakangi ban ini ke aspek politik, ekonomi.
Yang diharapkan oleh EU sebenarnya, response secara teknis dari finding2 mereka yang dituangkan kedalam Corrective Action Plan. CAP yang memuat apa, bagaimana dan kapan finding2 ini di penuhi. Issue yang menjadi alasan
Setelah semua ini dipenuhi, maka saat itulah kita pantas duduk semeja untuk membahas pencabutan ban. Jadi selama finding atau temuan masih belum closed, sangat kecil harapan bagi Indonesia untuk memaksa EU untukmencabut ban. Permasalahan yang dikemukakan oleh EU, kelihatannya tidak substantial, misalnya keterlambatan pengiriman dokumen dsb, namun demikian "Corectness/ seriousness " dalam managemen administrasi pun masuk dalam point penilaian mereka. Contoh sederhana saja, dokumen jawaban/response dari DGCA Indonesia, telah dikirimkan melalui e-mail bahkan bukan memalui email provider yang formal melainkan "Yahoo" yang selain tidak representative untuk sebuah lembaga resmi pemerintah, juga sangat
rawan dalam masalah securitynya. Ini salah satu cermin yang merefleksikan ketidak seriusan suatu lembaga pemerintah dalam membina infra structure-nya
Problem ini sekarang bukan lagi hanya merupakan problem antara DGCA dan EU/ EASA, melainkan telah menjadi problem bangsa Indonesia.
Sehingga sudah waktunya kita menggalang kekuatan dengan segala usaha dan daya untuk memenuhi persyaratan2 EU.
Main goalnya adalah, airline/air operator Indonesia kembali dapat mengepakan sayap di atas Eropa ataupun dimana saja diseluruh dunia ini. Tentunya dengan pemenuhan standard Aviation Safety yang di akui secara international/ ICAO dan FAA maupun EASA.
Bukan waktunya lagi bagi kita untuk "blaming each other"
Ever onward never retreat Pak Budi!


